Bahkan, sejumlah pohon yang telah tumbang di hutan belum dapat diproses sebagaimana mestinya. Kondisi ini membuat pekerjaan dan pendapatan para pekerja senso semakin tidak menentu.
“Kalau minyaknya ada, kami tukang senso juga harus ada izin supaya bisa dapat minyak untuk membangun ekonomi kami. Kalau mau naik motor, kita bisa jalan kaki. Tapi kalau mau cari uang harus pakai minyak. Kalau minyak datang, tetapi kami tidak punya izin untuk membelinya, sama saja kami nol. Orang lain yang punya izin baru bisa dapat,” keluhnya.
Esau menceritakan, pada Rabu (21/10/2026), dirinya mulai mengantre di SPBU Longgo sejak pukul 09.00 WITA. Karena belum mendapatkan BBM yang mencukupi, ia kemudian berpindah ke SPBU Metina sekitar pukul 16.20 WITA.
Namun, setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengantre di dua SPBU, Esau hanya memperoleh total tujuh liter BBM. Padahal, untuk menjalankan pekerjaannya, ia membutuhkan sekitar 8 hingga 9 liter per hari.
Artinya, BBM yang diperolehnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kerja sehari. Ia pun terpaksa kembali mengantre keesokan harinya agar bisa melanjutkan pekerjaannya.
Bagi Esau, persoalannya bukan sekadar sulit mendapatkan minyak, melainkan hilangnya kesempatan mencari nafkah ketika BBM tidak tersedia sesuai kebutuhan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
