Kedua tantangan tersebut adalah potensi peningkatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi inflasi, NTT pada Agustus 2026 mencatat inflasi sebesar 2,59 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, tetapi meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 2,43 persen.
Menurut Melki, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena bencana dapat mengganggu distribusi serta pasokan berbagai komoditas, terutama kebutuhan pangan.
Jika gangguan distribusi berlangsung lama, kelangkaan barang dapat terjadi dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT akan terus mendorong kelancaran distribusi barang dan memastikan ketersediaan komoditas guna mencegah tekanan inflasi semakin besar dan menggerus daya beli masyarakat.
Pertumbuhan Ekonomi NTT Terancam Melambat
Selain menjaga stabilitas harga, pemerintah juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi NTT setelah gempa Flores.
Ekonomi NTT pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh 5,01 persen secara tahunan.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 18,38 persen. Sementara itu, struktur perekonomian NTT masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontribusi mencapai 29,40 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
