“Potensi garam di Pulau Sabu dan Rote sangat luar biasa. Garam di Pulau Sabu memiliki kandungan NaCl mencapai 98,23 persen sehingga masuk kategori garam premium dan sangat layak memenuhi kebutuhan industri nasional. Pemda Sabu Raijua sangat siap, namun membutuhkan dukungan alokasi APBN yang konkret,” ujar Hilda Manafe.
Usulkan Integrasi PSN Garam Rote dan Sabu
Hilda Manafe juga menyoroti perjalanan Proyek Strategis Nasional sektor garam yang pada awalnya dirancang berpusat di Pulau Sabu berdasarkan usulan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan telah memperoleh persetujuan pemerintah pusat.
Namun dalam perkembangannya, proyek tersebut saat ini dieksekusi di Pulau Rote melalui Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN).
Sebagai solusi, Hilda mengusulkan konsep kawasan terintegrasi dengan menggabungkan pengembangan K-SIGN di Kabupaten Rote Ndao dengan industri garam premium di Kabupaten Sabu Raijua dalam satu kesatuan Proyek Strategis Nasional.
“Sebagai solusi yang adil dan strategis, proyek K-SIGN di Rote Ndao perlu diintegrasikan dengan pengembangan garam premium di Sabu sebagai satu kesatuan Proyek Strategis Nasional,” tegasnya.
Minta Dukungan APBN 2027
Menurut Hilda Manafe, konsep kawasan terintegrasi tersebut membutuhkan komitmen politik anggaran dari Kementerian Keuangan dan Bappenas agar dapat direalisasikan mulai tahun depan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
