“Bagi kami, ini bukan sekadar bangunan rusak. Ini soal periuk nasi 442 hektare lahan dan ratusan keluarga petani di Lentera,” tegas Melkianus.
Masyarakat kini berharap hasil survei lapangan BBWS NT II segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Mereka tidak ingin survei berhenti pada pendataan saja.
Sejak 1983, Embung Livuhanik telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Lentera. Kini, setelah aspirasi dikawal Usman Husin dan tim BBWS melakukan survei lapangan, petani menanti agar embung legendaris itu kembali berfungsi dan mengairi lahan mereka demi keberlangsungan pertanian dan kesejahteraan di Rote Barat Daya. (nr3)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










