WALHI NTT Minta Audit Ekologis Proyek K-SIGN Rote Ndao, Lindungi Pesisir dan Masyarakat Lokal

lahan garam rote
Lokasi pusat produksi garam di Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao. (Foto: Dok. RakyatNTT.ID)
  • Bagikan

Kawasan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 2 hingga 2,6 juta ton garam per tahun untuk membantu memenuhi kebutuhan garam nasional yang mencapai sekitar 5 juta ton per tahun.

Berdasarkan dokumen perencanaan, pengembangan K-SIGN dilakukan dalam skala besar. Pada Tahap 1, kawasan yang akan dibangun mencapai sekitar 743 hektare. Sementara pada Tahap 2, luas pengembangan direncanakan mencapai lebih dari 12.600 hektare yang tersebar di berbagai wilayah pesisir Pulau Rote.

Pengembangan itu mencakup pembangunan tambak garam, area kristalisasi, kolam produksi, fasilitas pengolahan, hingga berbagai infrastruktur penunjang lainnya.

WALHI Khawatirkan Dampak Ekologis

Menurut Yuvensius, luasnya area yang akan dikembangkan menunjukkan bahwa K-SIGN bukan sekadar proyek tambak garam biasa, melainkan transformasi besar terhadap bentang alam pesisir Pulau Rote.

Baca Juga:
Warga Kelurahan Olafulihaa Tampilkan Tari Kebalai di Panggung HUT RI ke-81

Ia menegaskan bahwa wilayah pesisir tidak dapat dipandang hanya sebagai kawasan produksi industri karena memiliki fungsi ekologis dan sosial yang sangat penting bagi masyarakat setempat.

“Wilayah tersebut merupakan ruang hidup masyarakat yang menopang perikanan tradisional, sumber pangan lokal, perlindungan abrasi, siklus tata air pesisir, hingga keberlangsungan sosial dan budaya masyarakat lokal,” ujarnya.

Baca Juga:
Polsek Pantai Baru Masuk Sekolah Saat MPLS, Ajak Siswa Jauhi Bullying dan Tawuran

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version