iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

WALHI NTT Minta Audit Ekologis Proyek K-SIGN Rote Ndao, Lindungi Pesisir dan Masyarakat Lokal

lahan garam rote
Lokasi pusat produksi garam di Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao. (Foto: Dok. RakyatNTT.ID)
  • Bagikan

Kawasan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 2 hingga 2,6 juta ton garam per tahun untuk membantu memenuhi kebutuhan garam nasional yang mencapai sekitar 5 juta ton per tahun.

Berdasarkan dokumen perencanaan, pengembangan K-SIGN dilakukan dalam skala besar. Pada Tahap 1, kawasan yang akan dibangun mencapai sekitar 743 hektare. Sementara pada Tahap 2, luas pengembangan direncanakan mencapai lebih dari 12.600 hektare yang tersebar di berbagai wilayah pesisir Pulau Rote.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!
Baca Juga:
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Rote Ndao, Bupati Paulus Henuk Tegaskan Pancasila Fondasi Perdamaian Dunia

Pengembangan itu mencakup pembangunan tambak garam, area kristalisasi, kolam produksi, fasilitas pengolahan, hingga berbagai infrastruktur penunjang lainnya.

WALHI Khawatirkan Dampak Ekologis

Menurut Yuvensius, luasnya area yang akan dikembangkan menunjukkan bahwa K-SIGN bukan sekadar proyek tambak garam biasa, melainkan transformasi besar terhadap bentang alam pesisir Pulau Rote.

Ia menegaskan bahwa wilayah pesisir tidak dapat dipandang hanya sebagai kawasan produksi industri karena memiliki fungsi ekologis dan sosial yang sangat penting bagi masyarakat setempat.

“Wilayah tersebut merupakan ruang hidup masyarakat yang menopang perikanan tradisional, sumber pangan lokal, perlindungan abrasi, siklus tata air pesisir, hingga keberlangsungan sosial dan budaya masyarakat lokal,” ujarnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *