Suasana semakin meriah ketika peserta tampil di hadapan masyarakat, guru dan orang tua yang memberikan dukungan dari sisi lapangan.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa bahasa ibu dan kesenian tradisional masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.
Festival Tunas Bahasa Ibu sekaligus menjadi momentum untuk memastikan budaya lokal tidak hanya tersimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dipraktikkan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi Rote Ndao, pelestarian bahasa ibu bukan sekadar mempertahankan bahasa. Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, nilai-nilai kehidupan dan jati diri masyarakat yang perlu diwariskan kepada anak-anak.
Meriahnya festival menjadi pesan bahwa ketika generasi muda diberi ruang untuk mengenal dan menampilkan budayanya sendiri, tradisi akan tetap hidup dan terus berkembang. (*/nr1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










