iklan

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pulang dalam Peti Merah Putih: Wili Mbuik,Gugur ditembak KKB Papau, Keluarga Desak Keadilan

Reporter : Arwadi Adu Editor: Bobby F. Piras
Dibalut Bendera Merah Putih Peti Jenasah Wili Mbuik
Dibalut Bendera Merah Putih Peti Jenazah Almarhumah Wili Mbuik saat diusung dan diantar oleh Pihak Pemerintah Daerah dan jajaran Forkopimda menuju Rumah Duka di Busalangga Rote Barat Laut, Jumat 11/9/2026. Foto : Arwadi/NusaROTE.ID
  • Bagikan

Ba’a, NusaROTE.ID — Tangis pecah di Kelurahan Busalangga, Rote Barat Laut. Ratusan warga berdiri memadati jalan saat ambulans yang membawa peti jenazah Wili Mbuik, S.P. tiba, Jumat (11/9/2026) pukul 15.09 WITA.

Bendera Merah Putih membungkus rapat peti itu. Bukan seragam dinas yang dikenakan Wili untuk pulang bekerja. Melainkan kain merah putih yang menutupi jasad seorang anak yang gugur saat mengabdi.

Scroll kebawah untuk lihat konten
iklan
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!

Wili Mbuik, Calon Pegawai Negeri Sipil Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dipulangkan ke tanah kelahirannya di Kabupaten Rote Ndao setelah gugur ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam perjalanan pulang dari Distrik Muliama menuju Wamena usai menyalurkan bantuan bibit babi dan pangan kepada masyarakat.

Kepulangan yang Bukan Perayaan

Peti jenazah Wili diantar menggunakan ambulans milik Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB, Usman Husin, dan dikawal mobil voorijder bersama rombongan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.

Jajaran pejabat hadir melepas. Mulai dari Pj. Sekda Rote Ndao Daniel W. Nalle, Wakil Ketua I DPRD Denison Moy, perwakilan Dandim 1627/Rote Ndao, Lanal Pulau Rote, hingga Kapolres Rote Ndao AKBP Henry Eko Irawan bersama jajaran.

Saat peti diturunkan, penghormatan diberikan. Di saat itulah tangis keluarga pecah.

“Bagi kami ini bukan kepulangan abdi negara yang selesai tugas. Ini kepulangan seorang anak dalam balutan Merah Putih setelah nyawanya terenggut di tanah Papua,” ujar salah satu keluarga.

11 Turun Bertugas, Kenapa Hanya 3 Ditembak?

Di tengah duka, muncul pertanyaan besar yang menggantung.

Sesepuh keluarga, Meilon Benhard Sula, dengan suara bergetar mempertanyakan kronologi penembakan.

“Kenapa dari 11 orang yang diperintahkan pimpinan, hanya tiga orang yang ditembak, sementara delapan lainnya tidak?” tegas Benhard.

Dua dari tiga korban diketahui merupakan warga asal NTT.

Keluarga menduga Wili dan dua rekannya menjadi sasaran karena dicurigai sebagai anggota intelijen pemerintah. Namun mereka menolak berspekulasi. Keluarga meminta aparat membuktikan semua itu lewat penyelidikan transparan.

“Apa yang sebenarnya terjadi di Jayawijaya? Mengapa ketiga korban menjadi sasaran? Apa motifnya?” tanya Benhard.

Luka Ditambah Dugaan Pelecehan

Luka keluarga semakin dalam. Paman korban, Hendrik Baba, mengungkap hal yang membuat dada semakin sesak.

Ponsel milik Wili disebut sempat digunakan terduga pelaku untuk melakukan video call WhatsApp ke keluarga di Kupang tak lama setelah penembakan. Dalam panggilan itu diduga dilontarkan ejekan dan penghinaan.

Namun keluarga memilih menahan diri.

“Saya tidak ada marah, saya biasa saja dan tidak ada rasa dendam. Cuma saya bilang, darah ini darah manusia. Tuhan di atas dan hukum yang akan mencari kamu,” tegas Hendrik.

Baca Juga:
Sopir Dump Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Rote Ndao Resmi Ditahan Polisi

“Jangan Anggap Ini Biasa” — Tuntut Presiden dan Menteri HAM Turun Tangan

Keluarga tidak ingin kasus ini berhenti di liang lahat.

Mereka mendesak Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri HAM untuk serius mengusut tragedi tersebut.

“Kami sangat terpukul dan tidak terima. Almarhumah adalah tumpuan dan harapan satu-satunya bagi orang tua serta keluarga besar kami,” ungkap Benhard.

“Jangan anggap kematian ini sebagai hal yang biasa. Kami minta Pak Menteri HAM turunkan tim ke sana agar peristiwa ini terbuka terang benderang,” lanjutnya.

Menurut keluarga, Wili bersama korban lain sedang menjalankan tugas pelayanan masyarakat di bidang pertanian. Bukan dalam operasi militer.

Wili Kembali ke Rote, Keadilan Belum

Keluarga menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Papua Pegunungan, Pemkab Jayawijaya, Pemprov NTT, Pemkab Rote Ndao, dan semua pihak yang membantu proses evakuasi dan pemulangan.

Namun satu hal belum kembali bersama Wili: keadilan.

Ketika peti Merah Putih itu diturunkan di tanah Rote, tangis warga mengiringi satu tuntutan yang sama:

UNGKAP KEBENARANNYA. CARI PELAKUNYA. TEGAKKAN KEADILAN.

Wili telah pulang. Kini giliran negara menjawab. (nr3)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NusaRote.ID

+ Gabung

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *